jump to navigation

Pengukuran Topografi untuk Perencanaan Bandar Udara Juli 30, 2011

Posted by jjwidiasta in Airport Planning and Engineering.
trackback

Pekerjaan survey dan pengukuran topografi untuk perencanaan bandar udara dilakukan dalam rangka memetakan kondisi permukaan tanah pada lokasi dan sekitar rencana pembangunan/pengembangan bandar udara, serta untuk mendapatkan gambaran atau peta situasi bandar udara sesuai dengan cakupan area pekerjaan dengan ketelitian yang dapat dipertanggungjawabkan. Peta hasil pengukuran topografi pada umumnya berskala 1:2.500 dan memiliki interval kontur 0,5 m.

Lingkup pengukuran topografi meliputi:

1)        Pemasangan Patok Beton (BM-Benchmark)

Jumlah Bench Mark (BM) yang akan dipasang akan ditentukan berdasarkan kebutuhan yang dipandang perlu dengan melihat kondisi di lapangan. Notasi atau tanda pengenal diberikan pada patok-patok BM sesuai dengan perjanjian atau kesepakatan bersama pemberi kerja dan pelaksana pekerjaan guna memudahkan identifikasi. Patok-patok BM tersebut dipasang pada lokasi yang aman dan mudah dicari.

Ukuran Bench Mark pada umumnya dibuat dan dipasang adalah 1 m x 0,2 m x 0,2 m dibuat dengan campuran beton bertulang dan dipasang besi atau plat kuningan di tengahnya serta diberi nomor/kode pengenal yang terbuat dari marmer dengan kedalaman penanaman maksimum 0,75 m.

2)        Pengukuran Koordinat (Kerangka Dasar Horizontal)

Pengukuran koordinat dilakukan dengan Metode Poligon Utama dan Sekunder yang diikatkan pada titik-titik kerangka dasar horizontal nasional terdekat atau Bench Mark (BM) yang telah ada/eksisting.

Jalur poligon berbentuk jaringan Loop yang tertutup melalui titik as kedua ujung landas pacu dan Bench Mark (BM) yang telah ada/eksisting dengan menggunakan peralatan Electronic Total Station (ETS) yang sebelum digunakan harus dikalibrasi terlebih dahulu. Pembacaan dilakukan Double Seri dengan ketelitian 1“ dan kesalahan penutup yang diijinkan sebesar 10“√n (dimana n = jumlah titik) serta kesalahan linier jarak yang diijinkan sebesar 1:10.000.

3)        Pengukuran Azimuth

Pengamatan Azimuth dilakukan dengan menggunakan Prisma Reoloff melalui pengamatan matahari sekurang-kurangnya 2 seri untuk pagi hari dan 2 seri untuk sore hari pada saat tinggi matahari 20o – 40o dengan kesalahan maksimum 30 “ (tiga puluh detik).

4)        Pengukuran Elevasi (Kerangka Dasar Vertikal)

Pengukuran Elevasi (Kerangka Dasar Vertikal) dilakukan dengan Metode Sipat Datar Utama dan Sekunder dengan titik referensi tinggi ditentukan terhadap Titik Tinggi Geodesi (TTG) atau titik-titik lain yang diketahui ketinggiannya dalam sistem nasional (MSL).

Jalur pengukuran elevasi mengikuti jalur poligon yang dilakukan perseksi pergi dan pulang menggunakan peralatan Automatic Level dengan kesalahan penutup maksimum 8√D mm (dimana D adalah jarak dalam Km). Sebelum digunakan harus di lakukan kalibrasi terhadap alat tersebut terlebih dahulu dan dipastikan bahwa sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam seminggu telah dilakukan pengecekan kesalahan garis bidik (kolimasi). Pembacaan dilakukan terhadap 3 (tiga) benang (atas, tengah dan bawah)  dan  diusahakan  agar  Jarak  Belakang  (DB)  sama  dengan Jarak Muka (DM).  Apabila dari hasil perhitungan beda tinggi diketahui ∑db≠∑dm  maka perlu dilakukan koreksi garis bidik.

5)        Pengukuran Poligon Primer dan Sekunder

1.             Pengukuran Poligon Primer

Jalur poligon utama membentuk jaringan loop yang tertutup, melalui kedua ujung titik as landasan atau Bench Mark yang sudah ada pada studi terdahulu.

  1. Pengukuran Sudut:
  • Theodolit yang digunakan adalah Wilid T-2 atau sejenisnya.
  • Pengukuran dengan menggunakan metode “Fixed Tripod System” yaitu dengan menggunakan 4 (empat) buah statip tetap dan 3 (tiga) buah kiap/tribach. Selama pengamatan berlangsung, statip tersebut harus tetap berada di satu titik, hanya target dan theodolit saja yang pindah.
  • Pengecekan alat ukur (theodolit), apabila salah kolimasi lingkaran horisontal lebih besar dari 30″ atau salah indek lebih besar dari 1″, maka alat harus dilakukan kalibrasi.
  • Sebagai titik bantu akan dipasang patok kayu ukuran (0,5 x 0,5 x 0,5) m, di tengahnya dipasang paku payung sebagai titik sentring, dicat merah dan diberi nomor/kode pengenal, bagian patok kayu ditanam sedalam 35 cm.
  • Pembacaan dilakukan double seri dengan ketelitian 1″.
  • Salah penutup yang diijinkan 10′ Ön, n = jumlah titik.
  • Pengamatan sudut vertikal dilakukan 2 seri pada setiap ujung poligon, untuk reduksi jarak datar.

Pengukuran Jarak:

  • Alat yang digunakan adalah EDM atau Total Station, yang telah dicek (kalibrasi) terhadap jarak basis yang telah diketahui jaraknya.
  • Setiap pengamatan jarak paling sedikit 3 kali pembacaan dan kemudian diratakan.
  • Temperatur dan tekanan udara dicatat untuk hitungan koreksi refraksi.
  • Ketelitian alat ukur jarak yang digunakan 6(5 mm + 5 mm/km).

Pengamatan Matahari:

  • Menggunakan prisma Roeloff.
  • Pengamatan matahari minimal 2 seri untuk pagi dan 2 seri sore hari.
  • Pengamatan dilakukan pada saat tinggi matahari 20°-40°.
  • Pengamatan dilakukan setiap jarak ± 1 km, pada titik simpul dan di ujung as landasan serta dilakukan di atas titik-titik tetap (Bench Mark) dengan titik target diusahakan ke BM yang lain.
  • Pengamatan sudut dengan kesalahan maksimum 15″ (detik).

2.             Pengukuran Poligon Sekunder

    1. Pengukuran Sudut:
  • Jalur pengukuran dimulai dan diakhiri pada titik poligon utama.
  • Pengukuran sudut dilakukan satu seri, dengan ketelitian sudut 2′ (menit).
  • Alat theodolite yang digunakan adalah Wild T-O atau sejenisnya.
  • Salah penutup sudut maksimum 2′ Ö n, dimana n = jumlah titik poligon.

Pengukuran Jarak:

  • Jarak setiap sisi poligon diukur dengan pita ukur minimal 2 kali pembacaan dan hasilnya diratakan.
  • Salah penutup jarak linier maksimum 1:5.000.

6)        Pengukuran Waterpass Primer dan Sekunder

Pengukuran waterpass meliputi pengukuran waterpass primer dan waterpass sekunder.

1.      Pengukuran Waterpass Primer

Titik referensi tinggi ditentukan terhadap titik tinggi nasional (TTG) atau titik-titik lain yang ketinggiannya dalam sistem nasional/MSL.

Jalur Pengukuran Waterpass Primer akan mengikuti jalur Pengukuran Poligon Primer kecuali bila ditemui daerah yang terjal atau gunung sehingga tidak memungkinkan dilakukan pengukuran waterpass, maka akan menggunakan cara trigonometris.

Adapun spesifikasi teknis pengukurannya adalah:

  • Alat sipat datar yang digunakan adalah Automatic Level Arde 2 seperti Wild NAK-2, Zeiss – Ni.
  • Jalur pengukuran mengikuti jalur poligon primer
  • Pembacaan dilakukan terhadap 3 (tiga) benang (atas, tengah, bawah).
  • Minimal 2 kali dalam setiap minggu alat harus dicek kesalahan garis bidik (kolimasi).
  • Jumlah slog tiap seksi harus genap
  • Pada waktu pembidikan diusahakan agar jarak belakang (DB) sama dengan jarak muka (DM) apabila Sdb ¹ S dm hasil hitungan beda tinggi perlu dikorelasi terhadap faktor koreksi garis bidik.
  • Jarak pembacaan dari alat waterpass ke rambu maksimum 50 m
  • Pengukuran per seksi dilakukan pergi dan pulang
  • Rambu harus diberi alas atau straatpot, kecuali pada patok kayu atau BM
  • Dalam pengukuran waterpass, rambu-rambu harus digunakan secara selang-seling sehingga rambu yang diamati pada titik awal akan menjadi rambu titik akhir pada setiap seksi
  • Tinggi patok kayu dan BM dari permukaan tanah harus diukur
  • Kesalahan penutup maksimum 8ÖD mm dimana D adalah jarak dalam km.

2.      Pengukuran Waterpass Sekunder

Jalur Pengukuran Waterpass Sekunder akan meliputi jalur Pengukuran Poligon Sekunder.

Adapun spesifikasi teknis pengukurannya sebagai berikut:

  • Jalur pengukuran mengikuti jalur poligon cabang (sekunder) dan menggunakan alat ukur Automatic Order (WILD NAK-1 , Sokkisa C-3A).
  • Pengukuran per seksi dilakukan untuk arah pergi saja dan dilakukan dengan double stand dengan pembacaan rambu lengkap (BT, BA, BB).
  • Toleransi salah penutup beda tinggi (T)

T  =   ( 15 Ö D ) mm

D = Jarak antara 2 titik kerangka dasar vertikal dalam satuan kilometer

  • Ketentuan lain sama seperti pada Waterpass Primer.

7)        Pengukuran Detail Situasi

Pengukuran Situasi merupakan pengukuran semua detail situasi bandar udara eksisting yang dilakukan dengan Metode Stadia sedangkan Pengukuran Obyek Obstacle merupakan pengukuran posisi horizontal obstacle yang dilakukan dengan Metode Mengikat Kemuka dan pengukuran tinggi Obstacle yang dilakukan dengan Metode Trigonometri dengan menggunakan peralatan Electronic Total Station (ETS). Basis pengukuran Situasi diusahakan menggunakan titik-titik poligon utama (titik-titik BM) dengan ketelitian pengukuran sudut horizontal sama dengan pengukuran sudut horizontal poligon utama.

Pengukuran situasi menggunakan titik BM dengan tingkat ketelitian sudut horizontal hampir sama dengan poligon utama.

8)        Pengukuran Profil Memanjang dan Melintang

Pengukuran dilakukan dengan alat sipat datar (water pass) terutama untuk daerah sekitar rencana landasan, taxiway dan apron (daerah prasarana sisi udara). Pengukuran dilakukan setiap interval 100 m atau sesuai kondisi topografi yang ada.

Hasil pengukuran akan di olah dengan Program Autocad Land Desktop Development yang mana akan diperoleh hasil yang akurat dan cepat.

 9)        Identifikasi Obstacle

Basis pengukuran obyek obstacle diusahakan menggunakan titik-titik poligon utama (titik-titik BM) dengan ketelitian pengukuran sudut horizontal sama dengan pengukuran sudut horizontal poligon utama.

Identifikasi obstacle akan dilakukan pada Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan untuk masing-masing landasan yang meliputi kawasan-kawasan sebagai berikut:

  1. Kawasan Kemungkinan Bahaya Kecelakaan (Runway End Safety Area);
  2. Kawasan Di Bawah Permukaan Transisi (Transitional Area);
  3. Kawasan Di Bawah Permukaan Horisontal Dalam (Inner Horizontal Area);
  4. Kawasan Di Bawah Permukaan Kerucut (Conical Area);
  5. Kawasan Ancangan Pendekatan dan Lepas Landas (Approach and Take-off Climb Area);
  6. Kawasan  Di Bawah  Permukaan Horisontal Luar (Outer Horizontal Area);
  7. Kawasan  Di Sekitar Penempatan Alat Bantu Navigasi Penerbangan;
  8. Obyek-obyek detail lapangan yang akan diidentifikasikan antara lain meliputi:
  • Bangunan gedung
  • Menara/pemancar (radio, TV dan BTS telekomunikasi, SUTT)
  • Jembatan
  • Fasilitas Navigasi Penerbangan
  • Alat Bantu Pendaratan Visual
  • Gunung atau bukit
  • Kendaraan tertinggi yang melewati jembatan atau alur sungai
  • Jaringan Listrik tegangan tinggi PLN
  • Pepohonan
  • Patung, monumen, bangunan buatan lainnya yang diperkirakan menjadi objek obstacle.

Pengukuran obstacle bertujuan untuk mengetahui posisi dan ketinggian bangunan/benda tumbuh di sekitar bandar udara yang membahayakan Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan dengan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan berikut:

  • Pengukuran posisi horisontal obstacle dilakukan dengan metode mengikat ke muka.
  • Ketelitian pengukuran sudut horisontal sama dengan pengukuran sudut horisontal poligon primer.
  • Basis pengukuran diusahakan menggunakan titik-titik poligon primer (BM).
  • Pengukuran tinggi obstacle dilakukan dengan metode trigonometri.
  • Pengukuran sudut vertikal dilakukan 2 (dua) seri dengan ketelitian sudut 10′’ (detik) dengan menggunakan alat theodolit wild T-2 atau yang sejenisnya.
  • Tinggi muka tanah obstacle terhadap ketinggian referensi ditentukan dengan melakukan pengukuran waterpass, dengan ketelitian minimal sama dengan ketelitian waterpass sekunder.

10)     Pengolahan data dan penggambaran peta situasi skala 1:1.000 dan 1:5.000 serta gambar potongan memanjang dan melintang.

Dalam pengukuran topografi ini harus dimasukkan pula catatan-catatan penting karakteristik wilayah hasil pengamatan lapangan, seperti lokasi titik-titik atau bangunan penting, kegiatan kependudukan dan tata guna tanah sekitarnya, pola aliran drainase, dan lain-lain yang diperlukan.

About these ads

Komentar»

1. yogiswara - Februari 28, 2013

keren tulisannya

salam kenal yogiswara junior surveyor


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: